Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Dedah Jumiatin, S.Pd., M.Pd.

Artikel Umum

Pengaruh Pembelajaran Contextual Teaching & Learning (CTL) terhadap Ketrampilan Sosial Anak Usia Dini

Dipublikasikan pada : 14 April 2016. Kategori : .

 

1.   PENDAHULUAN

 

Keterampilan sosial merupakan kemampuan berinteraksi dengan orang lain sesuai konteks sosial yang ada, dengan cara-cara tertentu yang sesuai tata-nilai atau penerimaan sosial; dan pada saat yang sama dapat membuahkan manfaat personal, keuntungan bersama, atau keuntungan dasar bersama orang lain. Kebaikan-kebaikan ini tentu sangat dibutuhkan setiap anak.

 

Menurut Nurihsan dan Agustin, “Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi: meleburkan diri menjadi satu kesatuan, saling berkomunikasi, dan bekerjasama.” (Ahmad Juntika Nurihsan & Mubiar Agustin, 2011: 36).

 

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi. Combs dan Slaby menyatakan:

Skill social is the ability to interact with other in  a  given social context  in specific ways that are socially  acceptable or valued and at the same time personality beneficial, mutually beneficial, or beneficial primary to other. (Cartledge& Milburn, 1992: 7).

 

Setiap anak dilahirkan belum memiliki keterampilan sosial. Dalam arti, dia belum memilki kemampuan bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orangtua, saudara, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya (Yusuf, 2000: 122).

 

Wahyudin dan Agustin menjelaskan, bahwa kemampuan bersosial anak harus dikuasai karena ia akan berinteraksi dengan orang lain. Tetapi tidak semua anak mampu bersosialisasi. Beberapa masalah sosial yang sering dialami anak adalah: anak ingin menang sendiri, sok berkuasa, tidak mau menunggu giliran bila sedang bermain bersama,  selalu ingin diperhatikan atau memilih-milih teman, agresif dengan cara menyerang orang atau anak lain, merebut mainan atau barang orang lain, merusak barang teman lain, dan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. (Uyu Wahyudin & Mubiar Agustin, 201: 45-46).

 

Kematangan keterampilan social anak berproses bertahap, sesuai pengalaman interaksi anak dengan orang lain. Namun ada kalanya muncul masalah-masalah dalam pergaulan sosial itu. Menurut penelitian Ernawulan (1999), permasalahan-permasalahan yang ditemukan pada anak SD kelas awal adalah ketidak-mampuan bersosialisasi dan mengendalikan emosi. Permasalahan yang ditemukan di SD apabila dibiarkan, anak akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan diri, dan akan mengalami hambatan pula dalam pencapaian tahap perkembangan berikutnya.

 

Dengan demikian,  dalam proses pembelajaran domain sosial ada dua hal penting yang perlu dikembangkan, yaitu kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal. Kecerdasan intrapersonal yaitu kemampuan anak untuk mengenali kelebihannya,  kekurangannya, dan perasaan-perasaannya sendiri; sedangkan kecerdasan intrapersonal  yaitu kemampuan anak untuk mengenali bagaimana karakter, motivasi, dan ekspresi  orang lain. (PLPG UPI Bandung, 2012: 61).

 

Para  pendidik perlu terus mencari dan mengembangkan sebaik-baik metode untuk meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini, karena kerap kali persoalan-persoalan komplek yang muncul di masa dewasa berakar dari kesalahan pendidikan sejak usia dini.

 

Di antara metode yang penulis coba terapkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak dan keterampilan sosial anak usia dini, ialah Contextual Teaching & Learning (CTL), atau dikenal juga sebagai Pembelajaran Kontekstual.

 

 

2.   HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Metode Contextual Teaching and Learning (CTL

Kasihani menyatakan, “Pengajaran dan pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata.

Blanchard, Berns& Erickson  menyatakan, bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah konsep pengajaran dan belajar yang membantu para guru menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi di dunia nyata, lalu memotivasi anak  untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan para pekerja; serta melibatkan anak  untuk bekerja keras dalam belajar.

 

Menurut Wina Sanjaya, ada beberapa keunikan dari pembelajaran kontekstual (CTL), yaitu sebagai berikut:

  1. CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas anak secara penuh, baik  fisik maupun mental.
  2. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
  3. Kelas dalam CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapanga
  4. Materi pelajaran ditentukan oleh anak sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.

Komalasari mengidentifikasi beberapa  karakter pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut:

 

  1. Relating (keterkaitan). Pembelajaran memiliki keterkaitan dengan bekal pengetahuan anak dan konteks pengalaman dalam kehidupan nyata. Aspek keterkaitan disini meliputi keterkaitan materi pelajaran dengan: pengetahuan dan keterampilan sebelumnya; materi pelajaran lain; hasil pemberitaan media; konteks lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat; pengalaman dunia nyata; kebutuhan anak; keluasan materi.
  2. Experiencing (pengalaman langsung). Pembelajaran memberi kesempatan kepada anak untuk memaknai pengetahuan dengan cara menemukan  dan mengalami sendiri secara langsung. Kegiatan yang relevan berupa: eksplorasi, penemuan  (discovery), perintisan (inventory), investigasi, penelitian, pemecahan masalah.
  3. Applying (aplikasi). Pembelajaran menekankan penerapan konsep, prinsip, dan prosedur yang dipelajari ke dalam konteks berbeda, sehingga bermanfaat bagi kehidupan anak.
  4. Cooperating (kerjasama). Pembelajaran mendorong anak bekerja sama, baik dengan guru, sesama kawan, dan sumber belajar. Kegiatan yang relevan misalnya kerja kelompok, diskusi, komunikasi interaktif, toleransi terhadap perbedaan gender, suku, agama, status sosial, budaya, perspektif.
  5. Self regulating (pengaturan diri). Pembelajaran mendorong anak untuk  mengatur diri dan mandiri. Indikatornya antara lain: motivasi belajar sepanjang hayat; motivasi mencari dan menggunakan informasi atas dasar kesadaran sendiri; melaksanakan prinsip trial and error (coba  lalu perbaiki); melakukan refleksi.
  6. Authentic assessment (penilaian otentik). Pembelajaran mengukur, memonitor, dan menilai semua aspek hasil belajar (kognitif, afektif, psikomotorik), baik hasil yang tampak maupun adanya perubahan  atau perkembangan, menilai  hasil belajar di kelas atau di luar  (Komalasari,  2011: 13-15).

 

  1. Keterampilan sosial

 

Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode Contextual Teaching & Learning (CTL) dapat meningkatkan keterampilan sosial anak Taman Kanak-kanak DaarutTauhiid Bandung. Merujuk hasil skor rata-rata pretest keterampilan sosial pada kelompok eksperimen sebesar 36,60; sedang skor rata-rata pretest kelompok kontrol sebesar 55,36. Hal ini menunjukkan keterampilan sosial anak kelompok eksperimen dan kontrol berada dalam batas rata-rata, atau tidak berbeda jauh.

Kemudian setelah dilakukan perlakuan, skor posttest kelompok eksperimen meningkat menjadisebesar 78,76; sedangkan pada kelompok kontrol meningkat menjadi70,60. Hal ini berarti pada kedua kelompok terjadi peningkatan, tetapi kelompok eksperimen mengalami peningkatan lebih tinggi. Peningkatan ini juga dapat dilihat pada N-gain kelompok eksperimen yaitu sebesar 42,16 (61,64 % dari skor ideal) yang berarti menunjukkan adanya peningkatan yang lebih tinggi dari pada kelompok kontrol yaitu 15,24 (30,70 dari skor ideal).

 

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa pembelajaran dengan metode Contextual Teaching & Learning (CTL)dapat meningkatkan keterampilan sosial anak. Padahal jika merujuk hasil rata-rata pretest keterampilan sosial, tampak kelompok kontrol mempunyai rata-rata skor lebih tinggi.

Peningkatan yang signifikan pada kelompok eksperimen disebabkan pembelajaran dengan metode Contextual Teaching & Learning (CTL) memiliki karakteristik yang sesuai dengan tujuan pengembangan indikator  keterampilan sosial anak. Salah satu prinsip yang dikembangkan dalam pembelajaran CTL adalah Cooperative (kerjasama). Dalam praktiknya indikator-indikator tersebut bisa dikembangkan melalui proyek-proyek yang dikerjakan anak-anak secara berkelompok,  sebagaimana ditekankan dalam CTL.

 

Komalasari mengidentifikasi karakteristik CTL, dengan menyatakan, “Pembelajaran yang menerapkan konsep kerjasama  adalah pembelajaran yang mendorong kerjasama di antara siswa, antara siswa dengan guru  dan sumber belajar. Indikator pembelajaran yang menerapkan konsep  kerjasama  ini meliputi: (a). Kerja kelompok dalam  memecahkan masalah dan menngerjakan tugas; (b). Saling bertukar pikiran, mengajukan, dan menjawab pertanyaan; (c). Komunikasi interaktif antar sesama siswa, antara siswa dengan guru, siswa dengan narasumber; (d). Penghormatan terhadap perbedaan gender, suku, ras,  agama, status sosial  ekonomi, budaya, dan perspektif.” (Komalasari, 2011: 14).

 

Bern dan Erickson mengemukakan lima strategi pembelajaran CTL, antara lain, “Cooperative learning (pembelajaran kooperatif), pendekatan yang mengorganisasikan pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil di mana siswa bekerja bersama untuk  mencapai  tujuan pembelajaran.” (Komalasari, 2011: 23). Ditjen Dikdasmen menyatakan, “Belajar kooperatif (cooperative learning) yang  memerlukan pendekatan  melalui kelompok kecil siswa  untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk  mencapai tujuan belajar.” (Ditjen Dikdasmen, 2003:  4-8).

 

Elaine Johnson menyatakan, “Prinsip kesaling-bergantungan juga mendukung kerjasama. Dalam bekerjasama,  para siswa terbantu dalam menemukan masalah, merancang rencana, dan mencari  pemecahan masalah. Bekerjasama  akan membantu mereka mengetahui bahwa saling mendengarkan akan menuntun pada keberhasilan. Pandangan setiap orang yang berbeda dan kemampuan-kemampuan yang unik secara bersama-sama akan tersusun menjadi sesuatu yang lebih besar, daripada penjumlahan dari  bagian-bagian itu sendiri.” (Johnson, 2012: 73).

 

Dalam penelitian yang penulis lakukan, diadakan kegiatan bertema mengenal sayuran. Anak-anak diajak mengenali bentuk sayuran dan nama-namanya dengan kegiatan simulasi perlombaan. Mereka dibentuk kelompok-kelompok, lalu diminta berlomba mengambil sayuran seperti tertulis dalam kertas instruksi. Mereka berusaha menjadi kelompok yang tercepat dan terbanyak mengenali nama sayuran. Di sini terjadi interaksi sosial untuk  mencapai satu tujuan.

 

Dalam kegiatan ini, anak-anak tampak bekerjasama dalam membaca kertas instruksi,  bekerjasama memilih sayuran,  bekerjasama mengenali nama sayuran, dan bekerjasama untuk  memenangkan perlombaan. Ketika dihadapkan kepada tugas bersama, mereka melakukan kegiatan yang bernilai kooperatif, respect, kompetisi, imitasi,  komunikasi, dan empati.

 

Semua indikator keterampilan sosial dirangsang dan dikembangkan. Sebagaimana data yang telah disampaikan, seluruh indikator  mengalami kenaikan. Kenaikan yang rerata tinggi tampak pada  indikator kooperatif, respect, kompetisi, dan komunikasi. Hal ini membenarkan pendapat para ahli, bahwa kegiatan bersama bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan sosial.

 

Sue Wortham menyatakan, “Perkembangan sosial terpusat ke kemampuan anak untuk berkembang menjadi bagian dari interaksi-interaksi kelompok.”  (Wortham, 2006: 254). Sementara Hendrick  menyatakan, “Perkembangan sosial tidak bisa diajarkan melalui aktivitas-aktivitas grup yang bersifat paksaan secara semu, tetapi dengan cara melibatkan anak dalam pengalaman hidup sehari-hari bersama para remaja dan orang dewasa.” (Wortham, 2006: 254).

 

Syamsu Yusuf menyatakan, “Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar dengan cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orangtua, saudara, teman sebaya, maupun orang dewasa lainnya.” (Yusuf, 2000: 122).

 

Mengajarkan nilai-nilai sosialisasi akan  lebih efektif dengan cara melibatkan anak-anak dalam kegiatan kelompok, sebagaimana karakter pembelajaran CTL. Alwasilah menyatakan, bahwa anak sebaiknya dibiasakan saling belajar dari dan dalam kelompok, untuk berbagi pengetahuan dan menentukan fokus belajar. (Pengantar buku CTL  karya Elaine Johnson).

 

Jika merujuk perkembangan kognitif anak, mereka memiliki  bakat untuk melakukan kontak sosial dengan orang lain. Nurihsan  menyatakan,  “Perkembangan perilaku anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas bersama teman-teman dan meningkatnya keinginan kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Anak tidak lagi puas bermain sendiri di rumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan kegiatan dengan anggota-anggota keluarga. Anak ingin bersama teman-temannya  dan akan merasa kesepian, serta tidak puas, bila tidak  bersama teman-temannya.” (Nurihsan, 2007: 163).

 

Lebih jauh Nurihsan dan Agustin menyatakan, “Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi  oleh lingkungan sosialnya,  baik orangtua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya,  maupun teman sebayanya. Apabila lingkungan sosial tersebut memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkembangan sosial anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang. Namun apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan orangtua yang kasar, sering memarahi, acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan, pengajaran atau pembiasaan terhadap anak dalam  menerapkan norma-norma, baik agama maupun tatakrama (budi pekerti); anak cenderung menampilkan perilaku maladjustment (punya masalah emosional sehingga berperilaku negatif).” (Nurihsan dan Agustin, 2011: 39-40).

 

Pengembangan karakter sosial anak akan lebih baik dilakukan di tempat tumbuhnya kehidupan sosial itu sendiri. Pembelajaran yang terlalu teoritik dikhawatirkan tidak membuahkan hasil optimal.

 

Dalam konteks CTL Elaine Johnson menyatakan, “Kemampuan otak  untuk menemukan makna dengan membuat hubungan-hubungan, menjelaskan mengapa siswa yang didorong untuk  menghubungkan tugas-tugas sekolah dengan kenyataan saat ini,  dengan situasi pribadi,  sosial, dan budaya mereka  saat ini, dengan konteks kehidupan keseharian mereka; akan mampu memasangkan makna pada materi akademik, sehingga mereka dapat mengingat  apa yang mereka pelajari. Jika kehilangan makna, otak mereka akan membuang materi akademik yang mereka terima.” (Johnson, 2012: 64).  Pernyataan ini  menyimpulkan pendapat dari Caine & Caine, Carter, Davis, Kotulak, Sousa, dan  Sylvester.

 

Lagi pula dalam sosialisasi langsung dengan lingkungan, akan membuat anak cepat menyadari kondisi  sosial itu sendiri. Syamsu Yusuf menyebutkan beberapa karakter negatif  pada anak  dalam kontek sosial, antara lain: membangkang, agressif, bertengkar,  menggoda, bersaing secara tidak sehat,  sok berkuasa, mementingkan diri sendiri. (Nurihsan dan Agustin, 2011: 38-39). Hal ini perlu diketahui dan disadari oleh anak sebagai peringatan dalam interaksi sosial. Mereka akan memahami bahwa dalam kehidupan di masyarakat akan melihat kenyataan-kenyataan sosial itu.  Pemahaman  yang utuh atas kenyataan sosial akan lebih mendewasakan.

 

Demikianlah, penerapan metode Contextual Teaching & Learning (CTL) secara empirik dan teoritis telah membuktikan manfaatnya untuk  meningkatkan keterampilan sosial  anak. Bahkan bisa dikatakan, metode CTL termasuk model pembelajaran yang sangat menekankan keterampilan sosial, karena di dalamnya terdapat prinsip Cooperatif yang merupakan salah satu pilar CTL (merujuk pendapat Elaine  Johnson, Ditjen Dikdasmen, Komalasari, dan  lain-lain).

 

Elaine Johnson menyatakan,  “Sekolah adalah sebuah sistem kehidupan, dan bahwa bagian-bagian dari sistem itu –para siswa, para guru, koki, tukang kebun, tukang sapu, pegawai administrasi, sekretaris, sopir bus, orangtua,  dan teman-teman masyarakat- berada di dalam sebuah jaringan hubungan yang menciptakan lingkungan belajar.” (Johnson, 2012: 72-73).

 

 

3.   KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil kajian teori dan penelitian di lapangan terdapat peningkatan keterampilan sosial pada anak yang mendapat perlakuan dengan pembelajaran Contextual Teaching & Learning (kelompok eksperimen), jika dibandingkan sebelum mendapatkan perlakuan. Penerapan CTL pada anak usia dini meliputi kegiatan-kegiatan yang mengandung unsur  mengalami (experiencing), menerapkan (applying), kerjasama (cooperating), dan mentransfer (transfering). Keempat kegiatan tersebut ada dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan satu sama lain dan dapat meningkatkan kemampuan anak usia dini.

 

 

4. REKOMENDASI

 

Metode CTL dapat digunakan untuk mengembangkan aspek perkembangan bahasa dan sosial pada anak usia dini. Metode ini bisa diterapkan pada lembaga pendidikan PAUD Formal dan Non Formal.

 

 

 

5.   REFERENSI

 

  1. Johnson, Elaine (2012). Contextual Teaching & Learning. Bandung: Penerbit Kaifa.
  2. Kasihani (2002). Contextual Learning and Teaching – CTL (Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual). Prosiding seminar pendidikan, vol. 2, 2002.

 

  1. Komalasari, Kokom (2011). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT. Refika Aditama

 

  1. Nurihsan, Ahmad Juntika & Agustin, Mubiar (2011). Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Refika Aditama.

 

  1. Sanjaya, Wina (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

 

Penulis: DEDAH JUMIATIN, M.Pd.

Dosen PGPAUD STKIP Siliwangi Bandung.